TENSKY TALKS #007 : JIDHO



Ganarjito Abirowo a.k.a Jidho is a dj who specializes in hip-hop and rnb, but his calibre is not to be asked again. He’s member of Pon Your Tone with Dipha Barus, Jnaro and Kayman. Beside that, he also joined Soul Menace and work together with De La House recently. TenSky managed to meet Jidho when he played Malang’s Astep Bistro month ago. 

Hi Jidho ! Gimana kabarnya ?

Jidho : Halo, baik banget.

Ini pertama kali ke Malang ?

Jidho : Iya ini pertama kali gue ke Malang. Lumayan adem haha.

Sejak kapan Jidho mulai nge-DJ ?

Jidho : Gue udah mulai suka dj dari SMA tahun 2007, tapi gue baru bisa pegang alat dan benar-benar memulai nge dj tahun 2010.

Apa yang menginspirasi Jidho untuk main Dj hingga sekarang ?

Jidho : Karena gue dari kecil, suka banget dengerin lagu. Gue dulu punya boombox sendiri dan selalu dengerin segala lagu dari radio yang gue suka. Gue juga sering bikin mixtape, jadi gue rekam dari radio dan gue mix jadi mixtape di kaset. Memang udah jadi passion gue ya, karena emang dari dulu nya emang udah suka. Pernah pada saat gue masih SMP, kakak ngajakin ke club dan gue menikmati musiknya. Akhirnya itu yang bikin gue semangat belajar nge-Dj hingga mengalir aja hingga sekarang.

Dimana Jidho pertama kali nge-DJ ?

Jidho :Tempat pertama gue main adalah acara Domingo Acopio di Treehouse Kemang. Domingo Acopio itu acara yang gue bikin sendiri sama temen-temen. Setelah itu, gue main di bar dan restoran, dan mulai sering main di kelab-kelab Jakarta.

Pada acara apa yang paling berkesan buat Jidho ?

Jidho :Acara Peaches N Cream. Itu gig pertama gue yang paling besar dan berarti buat gue di Potato Head Garage Jakarta.

Sebelum mantap memainkan musik hip-hop, genre apa yang dulu Jidho mainkan ?

Jidho : Awalnya gue main disco, lalu gue tertarik rnb & hip-hop. gue juga main house & techno juga.

Bagaimana Jidho bisa bergabung dengan Pon Your Tone, Soul Menace dan De La House ?

Jidho : Sebelum bergabung, gue dulu ikut Dipha tiap kali dia main, gue juga ikut main sama dia. Gue sama Dipha sering juga main di satu deck. Ketika Pon Your Tone dibentuk, gue langsung diajak gabung. Setelah gue gabung PYT dan sering bikin acara juga, gue gabung sama Soul Menace dan diajak kerja di De La House.  Ketiga grup tersebut bener-bener mempengaruhi karir musik gue. Semua karena emang passion gue dari awal.

Pesan apa yang ingin Jidho sampaikan kepada orang lain lewat karir yang kamu rintis hingga sekarang ?

Jidho : Gue pengen kasih tau dan mengedukasi bahwa musik itu banyak jenis dan berbeda-beda dari musik yang ada di radio. Masih banyak musik yang bisa didengar. Musik itu luas, tidak hanya satu genre saja. Itu yang membuat gue, Dipha, Jnaro, Kayman bersemangat untuk mengedukasi kepada yang lain.

Dengan bergabung dengan Pon Your Tone dan melakukan beberapa tur ke kota lain, menurut Jidho apakah ada perubahan pada skena musik Indonesia ?

Jidho : Ada dan malah lebih berbeda lagi sekarang. Kalo dulu, orang suka hanya EDM saja. Kalo sekarang, semakin beragam ada disco, house, hip-hop hingga trance. Semua memiliki komunitasnya sendiri dan semuanya memiliki tujuan sama, mengedukasi bahwa musik itu luas ngga hanya yang ada di radio.

Beberapa waktu lalu, Jidho bergabung dalam line-up salah satu acara Chips Social di Rotterdam. Apakah itu semacam kerjasama antara DLH dengan Chips ?

Jidho : Memang itu sebagai kerjasama De La House dengan Chips waktu itu. Kita melakukan pertukaran DJ dari Jakarta ke Belanda. Eropa memiliki club scene yang bagus juga. Dari kerjasama inilah supaya De La House memiliki hubungan. Kita berharap juga supaya Indonesia juga memiliki kesempatan berkancah di internasional juga dengan kerjasama yang kita jalin.

Bagaimana rasanya bisa mewakili Indonesia disana ?

Jidho : Senang banget bisa mewakili Indonesia. Sesuatu yang berbeda dan hal yang baru untuk gue. Di Eropa, orang-orang lebih terbuka terhadap musik dan luas wawasannya. Gue ingin apa yang gue pelajari dan yang gue rasakan di Eropa, bisa gue bawa ke Indonesia untuk berkembang juga.

Wow, that’s cool bro. Lalu apa sih perbedaan skena musik di Eropa dengan Indonesia ?

Jidho : Perbedaannya hanya ada di keterbukaan aja sih. Kalau di Indonesia, orang-orang masih ingin mendengar lagu yang ingin mereka dengar. Di Eropa, disana sangat terbuka dan menyambut perbedaan. Menurut gue Indonesia udah ada peningkatan selama 5 tahun ini. Temen-temen di Indonesia mulai tertarik untuk mengenal musik-musik yang beda.

Lalu, bagaimana De La House bisa bekerja sama dengan Klear Amsterdam ?

Jidho : Awalnya kita mengundang mereka untuk main di Jakarta. Setelah di Jakarta, De La House diundang Klear untuk main di acara mereka di ADE (Amsterdam Dance Event).Dari situ lah kita bisa bekerja sama & kita membantu mereka juga supaya mereka bisa bermain di kancah Asia juga. Sama-sama butuh link. Kita juga butuh link ke Eropa dan mereka juga butuh link ke Asia juga. Sama-sama ingin mengembangkan musik.

Dengan kerjasama yang dilakukan, bagaimana respon dari Klear dan Chips Social?

Jidho : Mereka sangat mengapresiasi kok. Mereka melihat di Jakarta scene clubnya sudah sangat besar. Ada Paranoia Awards dengan banyak nominasi produser & dj yang bertalenta. Mereka sangat support kok.

Apa langkah projek selanjutnya dari De La House Jakarta setelah ini ?

Jidho : Ditunggu aja ya haha. Setiap tahun kita punya target juga dan bertahap. Supaya dj Indonesia juga go internasional. Kita ingin yang diluar juga tahu bahwa dj-dj Indonesia juga memiliki skill yang gak kalah keren dan siap untuk go internasional. Gue ingin dj-dj Indonesia berkembang dari beberapa daerah untuk bisa main ke seluruh tempat Indonesia bahkan keluar negeri juga. 

No comments

Powered by Blogger.